Senin, 07 Juli 2014

Di Manakah Hatiku?

“Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati.” (HR. Bukhari).
Pernahkah kita merenungi jika kita tidak memiliki hati?
Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa hati mereka hilang (kotor dan rusak). Dan seolah-olah manusia semuanya memiliki hati, tapi sesungguhnya tidak sedikit dari manusia yang tidak memiliki hati lagi, yaitu rusaknya fungsi hati atau bahkan hilang dari fungsi fitrahnya. Apa yang akan terjadi jika manusia tidak memiliki hati? “....dan apabila dia (hati) rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya.” Itulah inti pesan Rasulullah bahwa jika hati manusia itu rusak atau bahkan hilang, maka hilanglah kendali dan rusaklah segala perbuatannya.
Lalu di mana hati kita?
Bisa jadi hati kita hilang terseret arus kecintaan terhadap dunia (bermegah-megahan yang melalaikan), terjerumus dalam lembah nafsu syahwat, maksiat, mengikuti langkah setan, dan dibawa lari oleh dosa-dosa kita.
Allah SWT berfirman, yang artinya; “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),....(QS. At-Takasur: 1-3, silahkan baca hingga akhir ayat).
Saudaraku, lebih dalam lagi, sungguh cinta kepada Allah dan dunia tidak akan pernah menyatu dalam satu hati, berikut hadits qudsi menjelaskan hal tersebut, yang artinya;
“Wahai anak Adam, sesuai dengan kecondongan hatimu kepada dunia, keluarkanlah kecintaan kepada-Ku darimu. Sebab, sesungguhnya Aku tidak menghimpun cinta-Ku dan cinta dunia dalam satu hati selamanya. Curahkanlah (hatimu) untuk menyembah-Ku dan bersihkanlah amalmu darinya sehingga Aku memakaikan  (pakaian) kecintaan-Ku. Datanglah kepada-Ku dan curahkanlah segenap tenaga, pikiran, dan waktumu untuk berzikir kepada-Ku, niscaya Aku akan menyebutmu di hadapan para Malaikat-Ku.” (Kalimatullah Asy-Syirazi).
Kemudian, apa tandanya seseorang itu tidak punya hati?
Tidak sedikit manusia yang suka mengerjakan apa yang dilarang Allah, dan meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya.
Hilangnya fungsi hati untuk merasakan manisnya iman, manisnya ibadah, lalai, tidak tersentuhnya hati saat melihat saudara kita yang kesusahan (fakir), tidak tergeraknya hati saat mendengarkan seruan Allah (adzan) atau tidak bergetarnya hati mendengar ayat-ayat-Nya. Allah berfirman, yang artinya;
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apa bila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah (kuat) imannya hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal : 2)
Jadi, bisakah hati bergetar jika hati sendiri tidak ada lagi dalam diri seseorang?
 Karena hati kita hilang fungsinya untuk merasakan manisnya iman jika kecintaan kita lebih besar terhadap dunia dan isinya, sementara itu hanya hati yang cinta kepada Allah  dan Rasul-Nya lah yang bisa merasakan manisnya iman tersebut.
          Rasulullah SAW, yang artinya;
 “Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman; yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan dari dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lalu, sebaliknya jika seseorang telah kehilangan hati, maka ia cenderung melakukan hal-hal yang dilarang, kemungkaran, memakan hak orang lain, indah terasa hal-hal yang dilarang oleh agama.
Mengapa ada manusia yang merampas hak orang lain dengan paksa? Karena hati mereka telah hilang! Mengapa ada manusia yang durhaka pada Allah dan kedua orang tua? Karena hati mereka telah hilang! Mengapa ada orang yang tidak malu melakukan zina? Karena hati mereka telah hilang! Mengapa ada manusia yang mengambil hak orang lain? Karena hatinya telah hilang?
Mereka mungkin tetap memiliki bongkahannya (fisik), tapi hilang nilai dan fungsi dari hati tersebut. Mungkin secara fisik hati mereka tetap ada, tapi secara batin, ruh dan fungsinya hilang. Itulah hati yang mati.
Saudaraku, semoga Allah yang Maha membolak-balikan hati menjaga hati kita dan memberikan hati yang bersinar terang.
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya;
“Hati itu ada empat macam: (1) hati yang bersih dan bersinar bagaikan lampu; itulah hati orang mukmin, (2) hati yang hitam (terbalik dari fitrahnya); itulah hati orang kafir, (3) hati yang terbungkus rapat (sulit menerima hidayah); itulah hati orang munafik, (4) hati yang berisikan campuran antara iman dan kemunafikan.” (HR. Imam Ahmad).
            Agar hati kita kembali dan hidup, bersinar, berjalanlah menuju pintu gerbang-Nya, kita harus membersihkan hati terlebih dahulu.

Mengapa kita harus membersihkan hati?
            Tidak bisa kita pungkiri bahwa letak kebahagiaan itu di hati. Tentunya hati yang selalu bersih dan hidup (masih ada hati), bahkan itulah sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Seperti yang sudah kita singgung bahwa tidak sedikit orang yang tidak menyadari kondisi hatinya yang bisa jadi tengah sekarat, mati lalu hilang.
Tidak jarang ada juga sebagian orang yang ingin hatinya hidup dan kembali, justru menempuh jalan keliru (misalnya bertamasya di pantai, ke tempat rekreasi, apalagi tempat hiburan yang mengundang maksiat).
Maka yang harus kita perjuangkan adalah membersihkan hati kita. Sebab, sungguh sangat menawan dan indah jika kita mendapatkan kembali hati, jiwa yang bersih dan memiliki qolbun salim (hati yang selamat).
            Mari kita berbicara hati dengan hati kita. Sungguh hati adalah sentral kebahagiaan anak Adam (manusia). Maka, jika hati manusia dipenuhi cahaya hidayah, keimanan sesuai dengan jalan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia akan menuai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam bukunya Jangan Asal Dzikir, Abdul Rosul mengatakan, “Manakala hati itu merupakan tempat cinta dan wadah kerinduan (kepada Allah), maka ia harus disucikan agar ia layak menerima sang Kekasih dan ia harus bebas dari segala ketergantungan kepada selain Allah.”
Dengan kata lain, sebaliknya bagi yang berpaling dari jalan Allah dan mengikuti langkah lain yang dipandu setan dan syahwat, maka lambat laun hatinya akan dipenuhi keresahan, kegelisahan dan kesengsaraan (rusak) di dunia dan tentunya lebih-lebih di akhirat.
Ibn ‘Athaillah berkata, “Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau berbuat maksiat kepada-Nya, lambat laut itu akan menghancurkanmu.”
            Jika kita umpamakan hati seperti sebuah rumah yang lengkap dengan pintu, jendela, ventilasi dan yang lainnya. Jika pintu dan jendela tidak dijaga dengan baik dan ketat, tidak dilengkapi dengan kunci atau terali, maka bisa diperkirakan akan mudah dibobol para pencuri.
Dengan kata lain pintu dan jendela adalah mata, telinga dan seluruh anggota badan. Sementara para pencurinya adalah setan, nafsu syahwat dan antek-anteknya.
Ada juga yang mengibaratkan bahwa hati adalah raja ataupun kerajaan dalam tubuh manusia. Raja Ali Haji menuliskan hal tersebut dalam Gurindam Dua Belas nya, “Hati itu kerajaan di dalam tubuh. Jikalau zalim segala anggota pun rubuh.”
Jadi, jika hati kita sebagai raja, maka anggota tubuh yang lainnya adalah rakyatnya. Oleh karena itu, jika rajanya rusak (hati kotor), maka sudah bisa diperkirakan rakyatnya tidak jauh berbeda. Begitulah jika hati kita kotor, hilang dari fungsi aslinya untuk bisa merasakan dan menilai kebenaran, maka niat dan perbuatan kita akan sia-sia.
            Pada awalnya hati kita hidup (ada). Namun hidup ini adalah perjalan dan sebuah proses, maka akan ada-ada saja manusia yang akan mengalami terkegelinciran dengan hal-hal yang dilarang agama. Maka, jika hati tidak dijaga dari kejadian dan kasus seperti ini, hati kita akan mudah terjangkit virus, penyakit hingga sekarat atau bahkan mati (hilang).
            Dalam hal ini Syaikul Islam mengatakan, “Penyakit hati adalah jenis kerusakan. Menjadi penyebab kerusakan pemikiran dan keinginan. Kerusakan pemikiran karena adanya berbagai syubat (kesamaran) sehingga tidak bisa melihat kebenaran, tapi tampak berbeda dengan yang seharusnya. Sedangkan keinginan adalah membenci kebenaran dan menyukai kebatilan.”
            Maka dari itu, kita wajib membersihkan diri dari hal syubat dan syahwat. Yang menjadi catatan penting adalah bahwa kebersihan itu meliputi jiwa, hati, badan dan harta. Yang sangat mendasar lagi adalah kebersihan hati merupakan nilai penting dan utama sebelum melangkah ke hal lainnya.
Kita harus mengetahui apa pentingnya sehingga kita harus membersihkan hati? Berikut alasan-alasan syar’i diantara pentingnya kita membersihkan dan menemukan kembali fungsi hati yang telah kotor, rusak bahkan hilang, adalah sbb:

1. Karena amalan yang lahiriah tidak akan diterima oleh Allah SWT selama tidak disertai dengan niat yang ikhlas. Niat adalah perbuatan hati, sangat sulit diharapkan niat ikhlas lahir dari hati yang kotor berlumur dosa (hilang fungsinya). Allah berfirman, yang artinya;
     “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...(QS. Al-Bayyinah : 5)
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya;
     “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang murni, yang dilakukan hanya untuk mengharap wajah-Nya.” (dalam kitab Sunan al-Nasai kitab Al-Jihad no. 3089).
2. Hati merupakan hakikat menusia itu sendiri, dan sekaligus wadah, cermin, gambaran dan penilai kebaikan dan kerusakannya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal, yang artinya;
     “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati.” (HR. Bukhari).
Kemudian hati menjadi sentral utama “pandangan” Allah, maka perbuatan yang dilakukan dengan hati yang ikhlaslah yang dinilai oleh Allah. Dia hanya melihat hati hamba-Nya, jika hatinya bersih dan niatnya ikhlas, maka amalanya akan diterima, bila hatinya kotor (tidak benar niatnya), secara sendirinya amalan tersebut tidak diterima-Nya. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya;
     “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh dan hartamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kamu.” (HR. Muslim).
3.  Abdurrahman bin Nashir Al-Sa’adi mengatakan bahwa keselamatan  di akhirat hanya tercapai oleh orang-orang yang hatinya bersih dari menyekutukan Allah, syubat dan syahwat, kemunafikan dan berbagai penyakit hati lainnya yang sangat berbahaya. Orang yang hatinya bersih menggantungkan diri hanya pada Allah SWT. Allah berfirman, yang artinya;
     “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dabangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara : 87-89).
Maka keselamatan di akhirat dari segala kehinaan, aib hanya akan diberikan kepada orang yang datang kepada Rabbnya denga hati yang bersih. Surga itu diberikan kepada orang-orang yang hatinya pasrah. Allah berfirman, yang artinya;
     “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan penuh keridhaam-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajar : 27-30).
Secara umum hal-hal ini menjadi acuan mengapa kita harus selalu berusaha untuk membersihkan hati dan mencari kembali hati kita yang telah hilang (fungsinya).
     Ya Allah, jadikanlah dunia dalam genggaman tanganku. Jangan jadikan dunia di dalam hatiku.







Senin, 24 Maret 2014

SUKSES ITU MENINGGALKAN JEJAK

COPY ESTAPET
DAN JEJAK SUKSES?

______________________________________________________________>>>
Sebaris sms masuk dalam HP saya, “..,saya sangat berharap abang bisa membantu saya jadi penulis. Terimakasih bang.” Sms ini dikirim pada tanggal 22 Februari 2014 oleh salah seorang peserta seminar yang saya berkesempatan mengisi di UIN SUSKA RIAU. Seminar ini tentang motivasi dan cara gila jadi penulis hebat.
Alhamdulillah, saya sangat terenyuh dengan sms tersebut dari sekian ratus peserta yang mendaftar hanya satu yang mengirim sms seperti itu. Sebelumnya ia menelpon teman saya mau menerbitkan buku. Dan teman saya memberikan no hp saya kepada penulis muda ini dan ia pun menelpon saya. Ia meminta saya untuk membaca atau mengoreksi tulisannya.
Saya kagum! pertama kagumnya kurang lebih 1 bulan seminar itu telah diadakan hanya ia lah satu-satunya yang mengirim sms, kedua ia rupanya mendapat ilham setelah mengikuti seminar itu dan  mengutakan motivasinya untuk segera menulis buku (dan siap) dan ketiga ia tahu cara untuk tumbuh sukses yaitu mencari mentor (pembimbing) atau orang yang akan mengarahkan dan membinanya pada bidang yang ia tekuni.
Sejak saat mendapat sms tersebut saya rasanya mendapat boom. Ya boom, boom motivasi bagi saya. Memang hampir 1 tahun lebih saya fakum dalam menulis dan belum menerbitkan naskah-naskah yang terbengkalai. Makanya saya katakan, dalam kesunyian ia datang sebagai cambuk motivasi bagi saya untuk bangkit dan berkarya kembali. Saya sangat kaget karena boom yang ia kirimkan. Saya sangat bersyukur atas kejadian ini, ini bukan suatu kebetulan tapi sudah dirancang.
Sebelum jauh melangkah, saya teringat dengan sebuah film di salah satu tv swasta nasional, saking asyiknya saya nonton saya tidak tahu apa judul filmnya sampai sekarang. Tapi saya mendapat pelajaran dari film tersebut. Dikisahkan ada dua orang pekerja di bagian sedot tinja. Tepatnya dua pemuda yang dibilang hidup mereka berantakan atau dikenal “pecundang”. Pada hari itu ada pertandingan gulat Smack Down dengan bintang yang dijagokan adalah  Jimmy King. Mereka berdua tidak ketinggalan dan ikut menonton langsung cara tersebut. Memang lagi apes, Jimmy King yang dijagokan banyak orang dan dua pemuda tersebut kalah dikeroyok dan dicurangi dengan sengaja oleh pemilik perusahaan pengada gulat tersebut melalui lawan tanding Jimmy King.
Ratusan penonton termasuk dua pemuda ini pun kecewa dan geram dengan pertandingan yang curang tersebut. Mereka pun pulang usai acara sambil menumpahkan kekecewaan mereka dengan mengoceh dan bernyanyi. Tanpa disadari ternyata mereka juga lagi apes mobil tinja yang mereka bawapun mengalami kecelakaan dan terbalik. Masih ada untungnya, keduanya selamat.
Mereka pun mencoba untuk pulang dengan mencari tumpangan, tapi salah satu pemuda itu berkesimpulan mengapa kejadian Jimmy King dan mereka hampir bersamaan. Dengan sangat tidak masuk akal teman yang satu lagi ikut juga. Mereka bukannya pulang ke rumah tapi malah mencari rumah Jimmy King yang berbeda kota.
Singkat cerita dengan bertanya dengan orang-orang di kota mereka menemukan Jimmy King. Pada saat mereka temui Jimmy King berada pada tempat persembunyian di rumah mobil berjalan (flat) dengan memakai pakaian wanita dan rambut dandanan wanita juga. Jimmy King awalnya tidak mengakui bahwa ia yang mereka cari. Rupanya Jimmy King Stress, Down dan tertekan dengan kondisinya yang jatuh dari sang bintang jadi bukan siapa-siapa.
Pada akhir cerita, kedua pemuda ini membujuk Jimmy King dan meyakinkannya bahwa dia adalah raja gulat yang seharusnya menang. Mereka memotivasi Jimmy King agar bertarung lagi. Tapi Jimmy King malah takut, takut dibunuh oleh pemilik perusahaan. Setelah dengan susah payah mereka berdua meyakinkan Jimmy King bahwa dia harus bertanding lagi, dialah rajanya. Dan, benar berkat dua pemuda yang datang pada Jimmy King tadi ia bangkit dari keterpurukannya dan akhirnya ia mendapatkan gelarnya sebagai raja gulat..
Upss..Mungkin, bisa jadi itu yang malah terjadi dengan saya, dengan sebagian orang yang dulunya punya prestasi, punya masa emas tapi saat mereka jatuh tidak ada yang datang untuk mensuport mereka akhirnya mereka menerima keadaan yang biasa-biasa saja dan mengangap itulah nasib mereka.
Namun saya bersyukur dengan kedatangan penulis muda ini, menyadarkan saya akan sebuah tugas mulia bahkan tanggung jawab yang cukup besar. Seperti dalam film Spider Man, “Semakin besar kekuatan yang anda miliki semakin besar tanggung jawab yang anda emban.” Ya, kekuatan di sini bisa potensi, bakat, keahlian. Nah, dalam hal ini tentunya untuk saya adalah menulis, bahkan Helvy Tiana Rossa pernah berkata, “Kalau saya diberikan kepandaian menulis, tapi tidak saya pergunakan maka saya berdosa.” Bisa jadi maksudnya, seharusnya dengan tulisan yang kita tulis ternyata ada yang membuat orang insyaf tapi karena kita tidak menuliskannya mereka malah terlanjur ke jurang.
Sisi lain yang ingin saya ulas adalah sisi estapet. Penerus perjuangan. Suatu yang jadi kecil artinya jika tidak bisa diteruskan atau dicontoh pada generasi yang tak pernah kita temua karena kita tak pernah dan mau menitipkan estapet kepada yang ada. Bahkan pada tingkat yang tinggi sukses bisa diartikan “sukses itu meninggalkan jejak.” Jadi, orang yang sukses hakiki adalah dimana kesuksesan yang ia raih, keahlian yang ia punya bisa dibagikan kepada orang lain dan terus menerus bisa dipelajari atau menularkan isnpirasi untuk diteladani.
Maka dari itu semua, sudah sepatutnya kita yang punya anugerah keahlian bisa kita tularkan atau semacam copy paste (kita cari bahasa yang lebih pas) ke generasi berikutnya dengan cara kita mau dan sungguh-sungguh membimbing, membina mereka agar ilmu kita bisa maksimal kita transfer ya.. bisa dibilang kloning..tapi mereka atau para kader kita harus lebih baik dan bisa berinovasi dari apa yang kita ajarkan. Tidak perlu sama persis tapi setidaknya kita telah menitipkan jejak melalui mereka.
Contoh agungnya bahwa Nabi Muhammad adalah contoh mentor tersukses sepanjang sejarah, beliau telah memberikan copy paste pada para sahabat, terutama Abu Bakar, Umar, Utsman binA Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat lainnya. Sehingga ajaran beliau tetap utuh sampai kepada kita. Copy paste atau proses estapet kaderisasi yang seperti itulah yang seharusnya kita jadikan contoh. Siap dibimbing dan membimbing. Siap sukses, disukseskan dan mensukseskan. (Rimbo Panjang, 18.03.14, 23.16) (Muklisin Raya Al-Bonai)



SEPERTI APA KITA MENJALANI HIDUP?

SEMUA ORANG AKAN PASTI MATI, TAPI YANG TERPENTING BAGI ALLAH ADALAH PRILAKUNYA SELAMA HIDUP


________________________________________________________________>>>

Dalam sebuah seminar (28-12-13) DAHSYATNYA MENTORING trainernya memutarkan sebuah video di sesi akhir acara. Dalam video itu bercerita tentang para pendaki. Banyak mengalami tantangan bahkan nyawa melayang. Tapi ada seorang pendaki yang tetap melaksanakan shalat di atas gunung es. Salah seorang temannya berkata, “Anda ternyata seorang yang taat…” dan ia menjawab, “SEMUA ORANG PASTI AKAN MATI, TAPI YANG TERPENTING BAGI ALLAH ADALAH PRILAKUNYA SELAMA HIDUP.”
HIDUP. Apakah kata hidup ini tidak ada pasangannya? Tentu ada, pasangannya adalah MATI. Lalu, fakta tentang hidup adalah setiap yang bernyawa akan merasakan kematian begitu Sang Khalik berfirman. Artinya bahwa semua makhluk khususnya yang bernama manusia akan mati. Jadi, apa yang paling berpengaruh dari kehidupan kita saat kita menemui kematian? Yaitu prilaku ataupun perbuatan, amal baik atau buruk akan mempengaruhi awal kematian kita. Memutuskan apa yang akan kita perolah di saat kematian menjemput bukanlah setelah kematian itu terjadi karena pada saat itu kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menunggu. Ya, menunggu pengadilan Sang Khalik tentang apa yang telah kita perbuat selama kita hidup. Kapan keputusan tentang apa yang ingin kita perolah saat kematian adalah saat kita hidup, yaitu saat ini, bukan nanti atau setelah mati. Yaitu menentukan pilihan hidup, yaitu hidup yang sesuai dengan cara hidup Sang Khalik. (Tulisan ini akan dikembangkan, insyallah)
DE BATAS KOTA, 28-12-13 (Muklisin Raya Al-Bonai)
***

Senin, 30 Desember 2013

TAMAN BACA TULIS

SAATNYA JADIKAN BUKU SEBAGAI GAYA HIDUP
Oleh: MR.TM (Muklisin Raya “Tuah Makna”)

Hari ini (05-12-13) saya dan istri pergi ke kampus UIN SUSKA RIAU. Menghadiri wisuda ponakan saya. Dari rumah kami berangkat sekitar pukul 11.30an. Di jalanan cukup macet. Mungkin karena hari ini acara wisuda tersebut. Dan tentunya tidak hanya diramaikan oleh para wisduawan/i tapi juga para tamu undangan yaitu keluraga dan teman-teman meraka yang turut berbahagia dan berbangga di hari ini.
Kami tetap melanjutkan perjalanan menuju UIN. Setelah dapat tempat parkir. Kami pun menuju tempat acara wisuda. Saya tidak hanya sekedar menuju tempat acara wisuda tapi juga “cuci mata”, epss, jangan salah tafsir dulu. Cuci matanya jauh berbeda, yaitu “cuci mata pengusaha”, selalu melihat peluang atau bisnis apa yang bisa digarap. Itulah kalau pengusaha di mana saja selalu cuci mata “peluang usaha”.  Soalnya hari ini di jalan dan trotoar menuju PKM UIN SUSKA disulap jadi pasar kaget. Beraneka ragam usaha, baik makanan, minuman, souvenier dan sampai-sampai ada yang jual siput laut dicat warna-warni, masih hidup tentunya. Wah..orang wisuda ramai, yang jualan juga tidak kalah ramainya.
Begitu banyak dagangan atau usaha yang ada di pasar kaget tersebut hanya ada beberapa jenis usaha atau penjual yang tidak. Yaitu salah satunya jualan atau bazar buku. Walaupun ada saya lihat yang jualan Al-Qur’an, alhamdulliah. Yang menjadi tanda tanya saya adalah bukankah hari ini adalah pengukuhan kaum intelektual, tentunya identik dengan buku atau ilmu. Lalu apa seharusnya ada yang jual buku? Bisa saja harus ada yang mewakili kalaupun tidak ada berarti belum. Ya belum dijadikan sebagai sesuatu yang lebih bermakna untuk diperjual belikan pada moment yang nota benenya acara kaum intelektual apakah itu sebagai kado dari orang-orang tersayang mereka.
Hari ini saya sengaja dan sudah diniatkan membawa kado (bahkan sudah saya biasakan memberi kado dengan buku, terutama kado pernikahan). Kadonya tidak sebuah souvenier yang akan jadi target debu jika dipajang atau bunga yang saya pun belum atau apa artinya pada momen seperti ini manfaatnya lebih jauh. Bagi saya buku jika dijadikan hadiah akan lebih memberi makna, manfaatnya jangka panjang. Misal jika kita memberi seseorang uang dua puluh ribu rupiah akan habis dalam beberapa menit bahkan detik saja. Namun saat kita memberi seseorang sebuah buku, katakanlah itu buku motivasi sukses berwirausaha misalnya, bisa saja buku yang kita berikan sangat bermanfaat dan membawa perubahan yang lebih baik baginya bahkan menjadi jalan suksesnya. Namun bukan berati hadiah lain tidak baik, bisa saja kita berikan buku plus souvenier bingkai photo.
Kemudian, yang menjadi pertanyaan saya lagi, kira-kira dalam acara seperti wisuda ini berapa orangkah yang berinisiatif memberikan kado berupa buku? Di hari lahir seseorang apakah ada orang yang memberikan hadiah buku, seberapa sering atau berapa orang? Mungkin bisa dihitung jari atau malah sangat langka. Intinya kebiasaan dari sebagian orang dalam memberi kado adalah dalam bentuk benda yang kira-kira membuat seseorang yang diberikan akan senang, bahagia atau bahkan sebaliknya sesuatu yang mubazir, tapi masih jauh dari hal yang bermakna seperti halnya kado berbentuk buku, kaset ceramah dan VCD motivasi.
Nah, dari hal-hal yang kita lihat dan alami selama ini sudah saatnya kita berupaya mengarahkan kebiasaan kita dalam berbagi kado ini pada hal yang lebih bermakna bahkan kita jadikan sebagai gaya hidup. Mulai saat ini “Say it with BOOKS” tidak selalu “Say it with Flower”. Tidak hanya dalam berbagi kado namun dalam semua aspek kehidupan kita. Membeli buku sebagai gaya hidup. Mengoleksi buku sebagai gaya hidup. Membuat pustaka pribadi sebagai gaya hidup. Menghibahkan buku sebagai gaya hidup. Membelikan anak atau teman buku sebagai gaya hidup. Meminjamkan buku sebagai gaya hidup. Dekat dengan buku sebagai gaya hidup. Menulis buku sebagai gaya hidup. Menjual buku sebagai hidup dan mengkampanyekan gaya hidup lebih bermakna dengan buku sebagai gaya hidup. We love BOOKS. We Love Reading.!!


Jumat, 20 Desember 2013

Istighfar dan bertaubat

Istighfar ialah memohon ampunan, sedangkan ampunan ialah penjagaan dan penutup kejelekan dosa. Artinya, Allah menutupi dosa hamba sehingga Dia tidak mengeksposnya di dunia dan menutupinya di akhirat. Bahkan, Dia menghapus siksa dosanya berkat anugrah dan rahmat-Nya. Istighfar kerapkali disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia adakalanya diperintahkan, sebagaimana firman Allah, yang artinya, ”Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil : 20) Seringkali kata istighfar disandingkan dengan kata taubat. Dalam konteks ini, istighfar merupakan ungkapan untuk memohon ampunan dengan lisan, sedangkan taubat sebagai ungkapan pelepasan dosa dengan hati dan anggota badan. Istighfar hukumnya seperti doa. Apabila Allah menghendaki, Dia akan mengabulkan dan mengampuni pelakunya. (Dari Buku MENCARI HATI YANG HILANG, KARYA; Ust. Tajuddin Nur, Lc & Muklisin Raya TM)

Menjauhi dosa dan maksiat

Mengulang kembali apa yang pernah dikatakan oleh syaikh Ibn ‘Athaillah, “Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau berbuat maksiat kepada-Nya, lambat laut itu akan menghancurkanmu.” Faktor utama yang menghitamkan hati hingga menjadi keras, tumpul dan rusak (hilang) adalah dosa dan maksiat. Ibarat saldo di bank, setiap satu dosa akan menambah saldo direkening hati berupa kekotoran, hitam, maka semakin banyak dosa dan maksiat hati akan semakin hitam. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Setiap mukmin jika berbuat dosa akan muncullah satu noda hitam di hatinya, jika bertaubat dan menjauhinya, dan meminta ampun hatiya kembali bersih, sebaliknya jika selalu bertambah dosa itu, bertambah dosa itu, bertambah pula nodanya hingga penuh berkarat. Sebagaimana yang disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, ‘Sekali-kali tidak bahkan hati mereka berkarat disebabkan oleh apa yang mereka perbuat’.“ (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi). Maka dari itu setiap mukmin wajib meninggalkan maksiat dan bertaubat dari dosa. Kemudian meninggalkan hal-hal yang sia-sia, syubhat dan yang mengundang syahwat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Di antara kebaikan keislamana seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi) Abu Abdillah mengatakan, “Termasuk meninggalkan hal yang tidak perlu, baik perkataan, pandangan, pendengaran, bersikap kasar, berjalan, berpikir dan seluruh gerak anggota lahiriah dan bathin.” Semoga dengan mendapatkan keterangan ilmu dan faedah untuk membersihkan dan menghidupkan hati, sehingga kita kembali mendapatkan hati yang lebih bersinar dengan cahaya ilahi. (Dari Buku MENCARI HATI YANG HILANG, KARYA; Ust. Tajuddin Nur, Lc & Muklisin Raya TM)

Mengapa Kita Harus Bertaubat?

Mengapa Kita Harus Bertaubat? “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur : 31). Bisa jadi kita pada awalnya mengatakan, “Mengapa saya harus bertaubat, memang apa yang saya lakukan..., kehidupan saya wajar-wajar saja dan dalam keadaan tenang (tidak berbuat dosa).” Sadar atau tidak kita sadari bahwa kita telah banyak melakukan kekhilafan, dan maksiat yang menjadi kumpulan dosa, meski kadang kala kita tidak menyadarinya. Selain Nabi Allah yang ma’sum, semua kita pernah melakukan dosa, ini bukan klaim, tapi kita adalah manusia yang selalu bisa tergelincir setiap saat. Tidakkah kita merasa bahwa kita berdosa? Untuk bisa memahami bahwa manusia ‘pernah berdosa’, contoh sederhana, setiap kita punya orang tua, tepatnya banyak remaja yang durhaka pada orang tuanya. Sungguh durhaka pada orang tua adalah salah satu dosa besar, bukan? Kita harus berhati-hati dengan dosa ini, ini termasuk urutan keempat dosa besar. Tahukan kita bahwa air mata orang tua dan hati ibu yang terluka bisa menyebabkan murka Allah. Padahal kita diperintahkan berbuat baik kepada mereka, Allah SWT berfirman, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun (Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14). Kemudian, ada anak yang salah didik akhirnya terjerumus pada obat terlarang, pergaulan bebas, membuat hati orang tuanya hancur. Jadi, apakah semua perkara ini tidak membutuhkan taubat? Yang perlu kita sadari bahwa kemarahan ayah dan ibu bisa menjadi bencana bagi kita, apalagi ketika ditimbang di akhirat. Dan semua itu lebih berat dari dosa-dosa yang kita lakukan satu sampai dua tahun lalu. Maka dari itu, kita pernah bahkan mungkin masih bersarang dalam diri kita dosa-dosa besar tersebut dan menuntut kita untuk bertaubat. Yang menjadi catatan khusus adalah bahwa dosa besar tidak hanya bagi mereka yang doyan mabuk-mabukan dengan miras dan berzina saja, akan tetapi termasuk juga bagi mereka yang durhaka kepada orang tua walau hanya dengan mengatakan “ah” dan menghardik mereka. “Semua dosa ditunda hukumannya hingga hari kiamat. Kecuali, durhaka kepada kedua orang tua. Allah akan menyelenggarakannya sebelum ia mati.” (HR. Dari Abu Bakar). Bukankah meninggalkan shalat wajib itu adalah dosa? Contoh lain, kita tahu bahwa shalat itu wajib. Tapi tidak sedikit muslim yang lalai dan ringan tanpa beban meninggalkannya. Berapa banyak muslim yang tidak pernah shalat shubuh. Bahkan puluhan tahun lamanya. Bukankah shalat shubuh itu juga wajib hukumnya? Yang harus kita ketahui bahwa meninggalakan shalat adalah termasuk dosa besar yang dimurkai Allah. Bukankah shalat adalah tiang agama? Siapa yang meninggalkan berarti meluluhlantakan agamanya sendiri. Merupakan bencana yang besar kalau sampai melalaikan apalagi meninggalkannya. Maka akan memenuhi informasi dari Al-Qur’an tentang “Saqar” yang artinya, “Apakah yang memasukan kamu ke dalam Saqar? Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Kami tidak pula memberi makan orang miskin. Kami membicarakan yang bathil dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Muddatstsir : 42-47) Sungguh ayat ini menginformasilam kepada kita bahwa Allah tidak akan meloloskan seorang pun dari mereka yang meninggalkan shalat ini. Maka, wahai saudaraku, saat ini kita masih bernafas, namun pernah lalai dan meninggalkan perintah ini, bukankah ini semua memerlukan taubat? Bukankah memandang yang diharamkan Allah itu berdosa? Jika Allah telah memuliakan sebagian dari kita dengan menjauhkan dosa-dosa besar, lihat lagi apa saja yang kita anggap jadi dosa kecil yang kita santap setiap harinya. Ratusan bahkan ribuan dosa kecil yang bisa terjadi setiap harinya. Coba hitung berapa kali mata kita memandang yang diharamkan Allah? “Dan katakan pada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagimu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.“Dan katakan pada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakan perhiasannya.” (QS. An-Nur: 30-31). Tidakkah termasuk perbuatan dosa jika menyakati hati saudara kita? Berapa kali kata-kata kita menyakati hati saudara kita? Berapa sering kita berprasangka negatif kepada orang lain? Kepada kaum hawa berapa banyak kata-kata ghibah (ghosib) yang kita umbar bagi saudara kita yang lain? Dan bagaiamanakah aurat kita selama ini? Saudariku, bukankah bagi wanita yang selalu membuka rambut dan aurat itu berdosa? “Siapa pun wanita yang melepaskan pakainnya (menampakkan auratnya), bukan di rumahnya (mahramnya) sendiri, maka Allah akan merobek (menghinakannya) tirai kehormatannya (tidak ada penyelamat baginya.)” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim). “Wanita yang berpakain tapi telanjang, berlenggok-lenggok, menyimpang dari agama, kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium baunya surga (jannah).” (HR. Muslim). Bagi wanita yang selalu membuka rambut, dengan gaya pakaian yang gemulai? Semua itu adalah dosa. Mengapa mereka mau melakukannya? Karena semua perkara itu akarnya adalah hati. Jadi jika hati telah hitam bahkan hilang fungsinya, maka manusia tidak akan segan dan malu lagi melakukan dosa. Jadi, bukankah dosa ini perlu taubat nasuhaa? Untuk menemukan hati kita yang hilang lagi ternoda, maka taubat nasuhaa adalah tempat penemuannya. Mengapa kita mencoba menggambarkan prilaku yang menyebabkan dosa-dosa di atas? Ini bukan saling menyudutkan, namu lebih dari itu agar kita menyadari dengan tahu atas dosa-dosa yang kita lakukan hingga kita bisa merasakan manisnya taubat. Seperti yang dikatakan ‘Amru Khalid dalam bukunya “Dengarkan Suara Hati” bahwa jika Anda ingin merasakan manisnya taubat, terlabih dahulu Anda harus merasakan buruknya maksiat dan dosa. Niscaya Anda akan memulainya dengan bertaubat.... Yakinlah saudaraku, dosa kita tidak sedikit. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita terjerumus dalam jurang dosa. Bahkan tanpa merasa menyesal kita melakukan maksiat dan dosa-dosa itu. Saat kita meninggikan suara dan mengatakah “ah” kepada ibu dan ayah. Kadang kita melakukan kerusakan alam dengan tangan kita sendiri hingga timbullah bencana. Maka dari itulah, kita sangat butuh bertaubat dari semua kekhilafan, kesalahan yang pernah kita lakukan, bahkan tidak bisa kita hitung saking banyakknya. Kita perlu dan harus bertaubat segera dari segala dosa yang menghabiskan jatah umur, waktu, energi kita secara sia-sia, bahkan membuat kita lupa Sang Pencipta (Allah). Yang lebih ironisnya lagi kita lupa bersyukur pada-Nya, padahal banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Bukankah tidak bersyukur juga termasuk dosa dan harus bertaubat? Yang tak kalah penting, kita harus bertaubat atas kelalaian dan menunda taubat. Terlebih lagi bagi yang bergelimang maksiat puluhan tahun. Pada dasarnya jika manusia segera mengakui dosa-dosa mereka dan mereka akan meninggalkannya. Namun yang terjadi sebaliknya adalah mereka lalai dan menunda taubat, bukankah menunda taubat adalah dosa yang butuh taubat nasuhaa? Itulah beberapa alasan yang mewakili mengapa kita harus bertaubat, tidak perlu marah atau terisnggung jika ada sauadara kita yang mengingatkan akan pertaubatan tersebut dan supaya kita beruntung (QS. An-Nur : 31). Bahkan Allah pun mengajak dan menyapa hamba-Nya agar bertaubat karena kasih sayang-Nya kepada manusia, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar, 39 : 53). Hikmah bijak mengatakan, “Ah! Aku berdosa secara rahasia, tidak pernah orang lain mengetahui dosa-dosaku yang mengerikan. Tetapi esok, rahasia dosa-dosaku ditampakkan dan dipertunjukan kepada Tuhanku.” Saudarku, janganlah kita melihat kecilnya dosa, karena bisa jadi dosa kecil itu jika dilakukan terus menerus akan menjadi besar, “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu akan berkumpul atas seseorang hingga mampu menghancurkannya.” (HR. Ahmad). Dan orang shaleh berkata, “Janganlah melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu berdosa? (tentunya dosa terhadap Allah).” (Ust. Tajuddin Nur, Lc & MR.TM)