Jangan seperti singa yang tidak bisa mengaum di antara kambing-kambing
Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang melahirkan dan seketika itu pula ia mati. Bayi singa yang masih lemah itu hidup tanpa perlindungan sang induk. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Singa itu menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba meilhat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.
Sang induk kambing lalu menghampiri anak singa yang lemah itu dan membelainya penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, si bayi singa tak mau berpisah dengan sang induk kambing. Anak singa itu terus mengikuti ke mana pun induk kambing pergi. Maka jadilah ia bagian dari dan keluarga besar dari rombongan kambing itu.
Waktu pun berlalu, hari berganti hari, sementara itu anak singa tumbuh besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum dan bermain bersamas anak-anak kambing lainnya secara alami. Tingkah lakunya juga persis seperti kambing. Bahkan anak singa yang mulai beranjak besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing. Ia mengembik bukan mengaum seperti sang singa si raja hutan.
Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing-kambing yang lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk berburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu menghadapi serigala.
“Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing pada anak singa yang sudah tampak besar dan keluar.
Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan seperti suara kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannya diterkam dan dibawa lari serigala.
Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan iba dan marah,
“Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya kau bisa bisa mengusir serigala yang jahat itu!”
Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia faham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing yang lain. Anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa bebuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali berburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing telah tertangkap dan dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang bernai menolong. Anak singa tidak kuasa melihat induk kambing yang telah dianggap sebagai induknya juga yang dicengkeram srigala. Dengan nekad ia lari dan menyerunduk serigala itu. Srigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor anak singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.
Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak kerasa,
“Emmbiiik!”
Lalu ia mundur. Mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk lagi.
Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing.
Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing yang bertubuh singa itu! Atau singa yang bermental kambing itu!
Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala sudah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.
Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, layaknya kambing. Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa itu raja hutan?
Tanpa memberi ampun sedikit pun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.
Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan aumannya yang dahsat!
Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.
Beberapa ekor kambing lari, yang lain juga langsung lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata,
“Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memakan anak singa!”
Namun anak singa itu terus berlari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan,
“Jangan bunuh aku, ammpuun!”
“Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak akan membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta anak singa berkata, “Tidak, aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”
Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis suara kambing.
Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangannya sendiri. Lalau membandingkan dengan singa dewasa.
Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa si raja hutan!”
“Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.
“Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”
“Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” kata sanga singa dewasa.
Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan dan mengaum dengan keras. Ya, mengaum, meggetarkan seantero hutan. Tak jauh dari itu serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.
Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan,
“Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”
Dari kisah ini, banyak sekali hikmah yang kita dapatkan dan belajar dari kejadian yang seharusnya tidak perlu terjadi. Ini hanya sebuah ilustarsi, yang jelas kita bukan kambing atau seekor singa, namun ini hanyalah pemisalan bagi kehidupan kita yang tidak menutup kemungkinan masih banyak yang tidak tahu jati diri dan mengenal potensi dirinya. Sehingga akan terbentuklah seperti seekor singa yang bermental kambing.
Padahal kita tahu bahwa sang singa adalah raja hutan. Karena ketidaktahuannya dan pengenalan diri dengan baik, siapa ia, dari mana asalnya dan menjadi apa ia seharusnya? Ya, ada di antara manusia yang sekian lama hidup, malah tidak mengenal diri dan potensi luar (big power) biasa yang telah mereka bawa sejak lahir.
Tidak sedikit manusia yang menjalani hidup ini dengan grafik datar, tidak pernah naik, hanya biasa-biasa saja, ala kadarnya saja yang penting bisa hidup. Sungguh sangat disayangkan jika kita hidup dalam belenggu tidak mengenal siapa diri kita sebenarnya. Hingga kita mengambil kesimpulan dan menjawab dengan rasa malas, langkah yang pesimis dan tak memiliki tujuan yang jelas. Kemalangan yang besar bagi manusia yang hidup tanpa ruh kekuatan, tanpa menggunakan potensi sabagai kekuatan yang luar biasa (big power). Hidup dalam suasana pasrah, apa adanya tanpa ada keinginan untuk berubah dan maju.
Sadar atau tidak, di antara manusia ada yang terlahir dan berpotensi sebagai pemimpin, namun ia tidak mengenal potensi itu ditambah lagi hidup dan bergaul di suatu komunitas orang-orang yang pesimis dan bermental kerdil, maka ketika ia diminta memimpin, di saat itulah ia tidak bisa berbuat apa-apa dan selalu mundur dan mundur. Sebenarnya ia memiliki potensi sebagai pemimpin, namun komunitas yang selalu ia ikuti adalah pecundang, maka terbentuklah ia seorang pecundang juga.
Seperti singa di antara kambing yang mengembik, bukan mengaum. Ia singa bermental kambing, bergaya kambing, makan seperti kambing, hidup seperti kambing, padahal ia adalah raja hutan yang gagah perkasa, tapi karena ia tidak kenal potensi dan kekuatan apa yang sebenarnya yang ia miliki, maka ia terbentuk sebagai kambing bertubuh singa atau singa berprilaku kambing.
Maka, ini merupakan pelajaran yang berharga, agar kita berkaca, melihat diri kita berkali kali di depan cermin, baik berkaca pada diri kita sendiri maupun orang lain yang bisa kita jadikan cermin kehidupan. Kita juga perlu belajar supaya bisa menjadi seperti apa seharusnya kita.
Kita harus mengenal diri dan potensi diri dan berjalanlah, mulailah menata langkah dan menentukan tujuan yang jelas, dan berteriaklah dengan lantang, “Aku pemenang, bukan pecundang!” seperti singa yang telah mengenal diri dan siapa ia, lalu ia berteriak penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”
Yakinlah bahwa kita adalah manusia yang terbaik dan memiliki potensi yang terbaik yang bisa menjadikan kita manusia yang terbaik dan bermanfaat. Renungkanlah firman Allah berikut ini,
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat makruf (baik), mencegah dari hal yang mungkar dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali-Imran : 110]
Kamis, 08 Oktober 2009
Belajar Dari Kisah Singa & Kambing
Label:
KISAH INSPIRATIF
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
Cara Sakti Mengenal Diri
Bagaiman Mengenal Diri Sendiri dengan Baik?
“Tidak penting apa yang terjadi di belakangmu, begitu juga dengan yang ada di depanmu, tetapi yang terpenting apa yang ada pada hatimu (Potensi).” [HIKMAH]
Saya masih teringat dengan sebuah pertanyaan dari seorang siswa yang saya ajar ketika PPL di salah satu SMA Negeri di Kampar, Riau tahun 2008. Begini tulisan SMS tersebut : “Ya, Mr. Bagaimana mengenal diri sendiri dengan baik?” Sebelum SMS ini masuk ke HP saya, saya mengirim kata-kata full inspirasi pada siswa tersebut yang isinya begini : “Orang yang sudah matang itu adalah orang yang mengenal dirinya dengan baik, mengenal segala sesuatu kekurangan dan kelebihan yang ada dalam dirinya.”
Dari gambaran cerita di atas tentunya kita harus mulai dari mengenal diri kita atau apa saja kelebihan dan kekurang yang ada di dalam diri kita sehingga kita bisa mengembangkannya. Ya, jelas, jika kita tidak mengenal diri, bagaimana kita bisa mengatur langkah dengan baik pula, karena pengenalan diri dan potensi adalah modal dasar yang harus ada dan kita pelajari.
Sadar atau tidak, Allah SWT., telah memberikan anugerah, nikmat yang begitu besar pada kita, bisa kita sebut beberapa bakat. Setiap manusia memiliki bakat atau potensi yang berbeda, di dalam hidup ini apa yang kita lakukan dan kita temukan adalah berkisar dengan bakat-bakat ini, dan yang terpenting setelah menemukannya haruslah mengamalkannya agar memberi sesuatu yang bermanfaat baik pada diri kita maupun orang lain dan lingkungan.
Dalam petualangan dan pencarian jati diri, bakat atau potensi memakan waktu yang begitu banyak dan panjang bahkan tidak sedikit manusia yang tidak menemukannya apa lagi bagi yang tak berusaha menemukannya. Mungkin butuh waktu berhari-hari, berbulan atau bertahun-tahun, namun yang sangat penting bagi kita yang berpetualangan dalam hal ini jangan pernah putus asa, never give up, guys!
Pelajari hal atau pekerjaan yang membuat seseorang merasa puas dan bersemangat melakukannya
Hal yang menjadi titik dasar dalam penemuan dan pencarian jati diri adalah dengan cara berusaha mepelajari dengan seksama mengenai suatu kegiatan yang bisa membuat seseorang merasa begitu bersemangat dan puas dengan melakukan hal tersebut. Dan juga berusaha mempelajari lebih dari satu kemungkinan dan kemampuan digemari dan memiliki ruang yang besar bisa dikerjakan dan diraih.
Tepatnya, yang dikatakan kepuasaan adalah suatu pernyataan yang seseorang merasa begitu nikmat dalam mengerjakan hal yang disenangi. Dan selanjutnya seseorang akan merasakan suatu kepuasan yang lebih perpect and comport, dan kesenangan serta kebanggaan akan muncul di dalam diri seseorang yang menemukan potensinya tersebut.
Suatu aktivitas yang kita lakukan akan mempengaruhi psikologi, memperjelas eksistensi kepribadian serta memberikan rasa percaya diri bahwa seseorang telah melakukan perubahan dan merasakan kemajuan yang berarti sehingga ia ingin selalu melakukan hal yang serupa tanpa jemu dan kontiniu. Maka, tak ayal lagi, inilah yang kita sebut suatu rasa kepuasaan. Kepuasan batin dan begitu nikmat dalam melaksankan hingga seseorang sangat ringan, mudah serta ikhlas melakukan hal tersebut. Yang tak kalah penting adalah kepuasaan yang kita rasakan dalam menjalani hidup ini jangan sampai hilang dan punah begitu saja, karen ia sangat penting seperti pentingnya Anda untuk maju dan bermanfaat.
Antusias yang tinggi dalam mengenal diri
Mengap hingga detik ini ada di antara manusia yang belum dan tidak menemukan potensi diri mereka? Willingness to do more (berbuat lebih dari yang diminta) yang seharusnya ada pada diri manusia yang ingin sukses dalam mengenal diri mereka, mereka memiliki semangat yang tinggi, rasa keingintahuan yang tinggi dan motivasi yang kuat yang bisa membuka jalan menuju istana kekayaan pribadi berupa potensi yang begitu luarbiasa dari sang Maha Pencipta.
Berkaitan denga hal tersebut, maka tidak jarang dari kita yang tidak begitu antusias dalam proses mencari bakat dan kekayaan berupa potensi diri yang sebenarnya akan membuka gerbang kemajuan dan kejayaan, akibat dari semua ini ada dari manusia yang merasakan dunia ini hanya berukuran 3 x 4 saja, sempit, merasa kurang senang, tenang dan tidak menikmati pekerjaan serta hidupnya. Ada yang sepanjang aktivitas mereka diwarnai ketidakseimbangan serta pertentangan yang disebabkan tingkah laku yang kurang sesuai dengan kelebihan (potesni) dan kemampuan (kemahiran) yang dimiliki.
Maka jangan sampai kita melangkah dalam kegundahan karena tidak memilki peta dan perbekalan yang cukup yaitu potensi diri. Sehingga mengakibatkan depresi, impirior, pesimis dan putus asa yang berkepanjangan.
Sekali lagi, potesni itu ibarat peta dan perbekalan yang cukup dalam melangkah dan meraih kesuksesan yang full manfaat.
Kalau kita tidak mengenal potensi sama saja tidak membawa peta hidup serta perbekalan yang cukup, sehingga kita mudah tersesat dan terseret arus. Contohnya saja, ada suatu lowongan pekerjaan untuk salesman, namun karena dia seorang pengangguran yang memiliki ijazah PT tekhnik, ya dari pada-dari pada....mending saya ambil, biar tidak disebut pengangguran lagi..Nah, mungkin saja ia bukan ahli dalam hal ini, tapi ia tetap saja ngotot, barangkali ia memiliki bakat yang lain yang bisa membawa ia kepada kesuksesan yang lebih menjamin. Seharusnya ia ke mana? Seharusnya ia membuka bengkel atau bekerja di perusahaan atau pabrik otomotif, namun ia tidak mengenali diri dan tidak tidak confidence terhadap kemampuan dasarnya yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya.
Untuk menghindari kejadian yang telah kita alami atau yang mungkin akan terjadi, mungkin kita bisa membuat alternatif perencanaan serta usaha-usaha yang lebih baik dalam mengenal diri. Ada pertanyaan yang semoga bisa membantu dan menjadi titik tolak kita dalam mengenal diri dengan baik dan jawabannya ada pada diri kita sendiri. Pertanyaan ini berdasarkan apa yang telah disampaikan Basel Syaikhu sebagai berikut:
1. Kenapa Anda Hidup?
2. Apa yang menjadi perhatian Anda dalam hidup?
3. Prinsip apa yang terpenting apa yang harus Anda terapkan dalam hidup dan pekerjaan Anda?
4. Apa proyek atau rencana terpenting yang ingin Anda capai dalam hidup hingga saat ini?
5. Kemampuan dan kemungkinan apa yang Anda butuhkan agar dapat mewujudkan proyek-proyek masa depan Anda tersebut?
6. Apa pekerjaan yang sangat Anda nikmati, dan berjalannya waktu tidak menyurutkan Anda ketika mengerjakannya?
7. Kekuatan apa yang terpenting menurut Anda?
8. Kekuatan apa yang terpenting menurut cara pandang orang-orang terdekat Anda?
9. Apa kelemahan terpenting dalam diri Anda menurut Anda sendiri?
10. Apa kelemahan terpenting dalam diri Anda menurut orang-orang terdekat Anda?
11. Apa bakat yang Anda miliki yang tidak diketahui oleh orang lain selain diri Anda sendiri?
12. Sifat apa yang sangat Anda kagumi dari orang lain?
13. Siapa yang sangat berpengaruh dalam diri Anda?
14. Kenapa orang ini (yang Anda sebutkan) sangat berpengaruh dalam diri Anda?
15. Kapan saat paling bahagia dalam hidup Anda?
16. Apa yang menyebabkan saat itu menjadi saat paling bahagia dalam hidup?
17. Adakah sesuatu yang mungkin bisa Anda lakukan dan bermanfaat bagi orang lain?
18. Peran-peran penting apakah yang selalu Anda praktikkan dalam hidup ini?
19. Hal-hal apakah yang ingin Anda capai dalam setiap peran Anda tersebut?
20. Sebenarnya Anda ingin menjadi apa? (Aku mau ingin menjadi apa?)
21. Kiasaan negatif apa yang selalu Anda lakukan?
22. Kebiasaan positif apa yang ingin Anda lakukan?
23. Kebiasaab negatif apa yang ingin Anda lakukan?
24. Manfaat apa yang dapat Anda peroleh dari mengubah kebiasaan negatif tersebut?
By: Muklisin Al-Bonai
“Tidak penting apa yang terjadi di belakangmu, begitu juga dengan yang ada di depanmu, tetapi yang terpenting apa yang ada pada hatimu (Potensi).” [HIKMAH]
Saya masih teringat dengan sebuah pertanyaan dari seorang siswa yang saya ajar ketika PPL di salah satu SMA Negeri di Kampar, Riau tahun 2008. Begini tulisan SMS tersebut : “Ya, Mr. Bagaimana mengenal diri sendiri dengan baik?” Sebelum SMS ini masuk ke HP saya, saya mengirim kata-kata full inspirasi pada siswa tersebut yang isinya begini : “Orang yang sudah matang itu adalah orang yang mengenal dirinya dengan baik, mengenal segala sesuatu kekurangan dan kelebihan yang ada dalam dirinya.”
Dari gambaran cerita di atas tentunya kita harus mulai dari mengenal diri kita atau apa saja kelebihan dan kekurang yang ada di dalam diri kita sehingga kita bisa mengembangkannya. Ya, jelas, jika kita tidak mengenal diri, bagaimana kita bisa mengatur langkah dengan baik pula, karena pengenalan diri dan potensi adalah modal dasar yang harus ada dan kita pelajari.
Sadar atau tidak, Allah SWT., telah memberikan anugerah, nikmat yang begitu besar pada kita, bisa kita sebut beberapa bakat. Setiap manusia memiliki bakat atau potensi yang berbeda, di dalam hidup ini apa yang kita lakukan dan kita temukan adalah berkisar dengan bakat-bakat ini, dan yang terpenting setelah menemukannya haruslah mengamalkannya agar memberi sesuatu yang bermanfaat baik pada diri kita maupun orang lain dan lingkungan.
Dalam petualangan dan pencarian jati diri, bakat atau potensi memakan waktu yang begitu banyak dan panjang bahkan tidak sedikit manusia yang tidak menemukannya apa lagi bagi yang tak berusaha menemukannya. Mungkin butuh waktu berhari-hari, berbulan atau bertahun-tahun, namun yang sangat penting bagi kita yang berpetualangan dalam hal ini jangan pernah putus asa, never give up, guys!
Pelajari hal atau pekerjaan yang membuat seseorang merasa puas dan bersemangat melakukannya
Hal yang menjadi titik dasar dalam penemuan dan pencarian jati diri adalah dengan cara berusaha mepelajari dengan seksama mengenai suatu kegiatan yang bisa membuat seseorang merasa begitu bersemangat dan puas dengan melakukan hal tersebut. Dan juga berusaha mempelajari lebih dari satu kemungkinan dan kemampuan digemari dan memiliki ruang yang besar bisa dikerjakan dan diraih.
Tepatnya, yang dikatakan kepuasaan adalah suatu pernyataan yang seseorang merasa begitu nikmat dalam mengerjakan hal yang disenangi. Dan selanjutnya seseorang akan merasakan suatu kepuasan yang lebih perpect and comport, dan kesenangan serta kebanggaan akan muncul di dalam diri seseorang yang menemukan potensinya tersebut.
Suatu aktivitas yang kita lakukan akan mempengaruhi psikologi, memperjelas eksistensi kepribadian serta memberikan rasa percaya diri bahwa seseorang telah melakukan perubahan dan merasakan kemajuan yang berarti sehingga ia ingin selalu melakukan hal yang serupa tanpa jemu dan kontiniu. Maka, tak ayal lagi, inilah yang kita sebut suatu rasa kepuasaan. Kepuasan batin dan begitu nikmat dalam melaksankan hingga seseorang sangat ringan, mudah serta ikhlas melakukan hal tersebut. Yang tak kalah penting adalah kepuasaan yang kita rasakan dalam menjalani hidup ini jangan sampai hilang dan punah begitu saja, karen ia sangat penting seperti pentingnya Anda untuk maju dan bermanfaat.
Antusias yang tinggi dalam mengenal diri
Mengap hingga detik ini ada di antara manusia yang belum dan tidak menemukan potensi diri mereka? Willingness to do more (berbuat lebih dari yang diminta) yang seharusnya ada pada diri manusia yang ingin sukses dalam mengenal diri mereka, mereka memiliki semangat yang tinggi, rasa keingintahuan yang tinggi dan motivasi yang kuat yang bisa membuka jalan menuju istana kekayaan pribadi berupa potensi yang begitu luarbiasa dari sang Maha Pencipta.
Berkaitan denga hal tersebut, maka tidak jarang dari kita yang tidak begitu antusias dalam proses mencari bakat dan kekayaan berupa potensi diri yang sebenarnya akan membuka gerbang kemajuan dan kejayaan, akibat dari semua ini ada dari manusia yang merasakan dunia ini hanya berukuran 3 x 4 saja, sempit, merasa kurang senang, tenang dan tidak menikmati pekerjaan serta hidupnya. Ada yang sepanjang aktivitas mereka diwarnai ketidakseimbangan serta pertentangan yang disebabkan tingkah laku yang kurang sesuai dengan kelebihan (potesni) dan kemampuan (kemahiran) yang dimiliki.
Maka jangan sampai kita melangkah dalam kegundahan karena tidak memilki peta dan perbekalan yang cukup yaitu potensi diri. Sehingga mengakibatkan depresi, impirior, pesimis dan putus asa yang berkepanjangan.
Sekali lagi, potesni itu ibarat peta dan perbekalan yang cukup dalam melangkah dan meraih kesuksesan yang full manfaat.
Kalau kita tidak mengenal potensi sama saja tidak membawa peta hidup serta perbekalan yang cukup, sehingga kita mudah tersesat dan terseret arus. Contohnya saja, ada suatu lowongan pekerjaan untuk salesman, namun karena dia seorang pengangguran yang memiliki ijazah PT tekhnik, ya dari pada-dari pada....mending saya ambil, biar tidak disebut pengangguran lagi..Nah, mungkin saja ia bukan ahli dalam hal ini, tapi ia tetap saja ngotot, barangkali ia memiliki bakat yang lain yang bisa membawa ia kepada kesuksesan yang lebih menjamin. Seharusnya ia ke mana? Seharusnya ia membuka bengkel atau bekerja di perusahaan atau pabrik otomotif, namun ia tidak mengenali diri dan tidak tidak confidence terhadap kemampuan dasarnya yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya.
Untuk menghindari kejadian yang telah kita alami atau yang mungkin akan terjadi, mungkin kita bisa membuat alternatif perencanaan serta usaha-usaha yang lebih baik dalam mengenal diri. Ada pertanyaan yang semoga bisa membantu dan menjadi titik tolak kita dalam mengenal diri dengan baik dan jawabannya ada pada diri kita sendiri. Pertanyaan ini berdasarkan apa yang telah disampaikan Basel Syaikhu sebagai berikut:
1. Kenapa Anda Hidup?
2. Apa yang menjadi perhatian Anda dalam hidup?
3. Prinsip apa yang terpenting apa yang harus Anda terapkan dalam hidup dan pekerjaan Anda?
4. Apa proyek atau rencana terpenting yang ingin Anda capai dalam hidup hingga saat ini?
5. Kemampuan dan kemungkinan apa yang Anda butuhkan agar dapat mewujudkan proyek-proyek masa depan Anda tersebut?
6. Apa pekerjaan yang sangat Anda nikmati, dan berjalannya waktu tidak menyurutkan Anda ketika mengerjakannya?
7. Kekuatan apa yang terpenting menurut Anda?
8. Kekuatan apa yang terpenting menurut cara pandang orang-orang terdekat Anda?
9. Apa kelemahan terpenting dalam diri Anda menurut Anda sendiri?
10. Apa kelemahan terpenting dalam diri Anda menurut orang-orang terdekat Anda?
11. Apa bakat yang Anda miliki yang tidak diketahui oleh orang lain selain diri Anda sendiri?
12. Sifat apa yang sangat Anda kagumi dari orang lain?
13. Siapa yang sangat berpengaruh dalam diri Anda?
14. Kenapa orang ini (yang Anda sebutkan) sangat berpengaruh dalam diri Anda?
15. Kapan saat paling bahagia dalam hidup Anda?
16. Apa yang menyebabkan saat itu menjadi saat paling bahagia dalam hidup?
17. Adakah sesuatu yang mungkin bisa Anda lakukan dan bermanfaat bagi orang lain?
18. Peran-peran penting apakah yang selalu Anda praktikkan dalam hidup ini?
19. Hal-hal apakah yang ingin Anda capai dalam setiap peran Anda tersebut?
20. Sebenarnya Anda ingin menjadi apa? (Aku mau ingin menjadi apa?)
21. Kiasaan negatif apa yang selalu Anda lakukan?
22. Kebiasaan positif apa yang ingin Anda lakukan?
23. Kebiasaab negatif apa yang ingin Anda lakukan?
24. Manfaat apa yang dapat Anda peroleh dari mengubah kebiasaan negatif tersebut?
By: Muklisin Al-Bonai
Label:
MOTIVAKSI
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
Selasa, 04 Agustus 2009
Luaskan hati dan lapangkan dadamu
Pernahkan kita hidup tanpa masalah sekalipun? Itu hal yang mustahil, hidup ini adalah ujian dan masalah silih berganti selagi malam dan siang bekerjasama dalam menjalani titah Allah. Setiap manusia pernah diterpa badai ujian kehidupan, namun kita harus bijak dalam menyikapinya. Kadang kita mengira masalah kita yang paling berat, musibah kita yang paling dahsyat, tanpa memandang kepada saudara kita yang lain yang lebih besar masalah dan musibah yang mereka hadapi. Kelapangan hati dan dada serta berjiwa besar ketika dirundung masalah dan mengambil hikmah dari kejadian yang merupakan rahasia Allah adalah jalan keluar. Hingga masalah yang melanda tidak membuat hidup mandek dan kehilangan kendali, pada akhirnya malas berusaha adalah jalan pintas yang mematikan kreatifitas. Mari renungi kisah bijak berikut ini.
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu, memang seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.
Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..,” ujar Pak Tua.
“Pahit. Pahit sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-ngaduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan air itu.
“Coba ambil air telaga ini, dan minumlah. “Saat tamu itu selesai mereguka air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?” “Segar,” sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu? Tanya Pak Tua lagi. “Tidak,” jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda.
Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.”
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. luaskan hatimu untuk menampung semua kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu, adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan membuatnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Label:
KISAH INSPIRATIF
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
Senin, 25 Mei 2009
MODAL SUKSES
MODAL SUKSES: Pola pikir, Keyakinan, Tekad dan Motivasi
“Selama Anda tidak memiliki keyakinan untuk bisa berubah dan maju, maka hal itu benar-benar takkan terjadi. Oleh sebab itu, milikilah keyakinan yang besar dan kuat; pertama keyakinan kepada Allah yang telah memberi potensi besar dan kekuatan untuk berbuat; kedua, yakin pada diri sendiri bisa melakukan sesuatu hal luarbiasa yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh orang lain, karena kebanyakkan orang tidak mau memikirkan apalagi mewujudkannya. Namun, Anda adalah orang yang mewujudkan semua itu bersama Allah di saat orang tak memikirkannya dan di saat orang mulai memikirkannya, namun Anda telah meraih yang tertinggi dari sebuah keberhasilan dan kemanfaatan hidup. Itulah modal besar hidup, yaitu “Keyakinan besar” baik di dunia maupun setelah berakhirnya dunia.” (M. ABi)
Pola pikir dan Keyakinan luar biasa
Perubahan itu harus terjadi. Dan kehidupan itu pasti berubah. Masa depan akan berubah, namun perubahannya itu yang tidak pasti. Bisa perubahan yang baik atau sebaliknya. Menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah, apakah kita punya keyakinan yang cukup untuk berubah? Apakah kita punya segudang tekad yang kuat dan motivasi untuk maju serta sukses?
Keyakinan yang besar akan mengawali perubahan yang besar. Seseorang yang ingin merubah hidup menjadi lebih baik, maka langkah jitu adalah merubah pola pikir (mind set) terlebih dahulu. Sehingga pikiran yang telah dibangun dalam aliran poistif akan membangun suatu keyakinan bahwa perubahan itu bisa dilakukan.
Jika kita pikir secara logika bahwa setiap perubahan, kejayaan, kesuksesan besar justru dimulai dari pikiran yang selanjutnya menjadi keyakinan yang dahsyat. Inilah salah satu kunci kesuksesan orang-orang biasa menjadi luarbiasa, orang kecil menjadi besar. Mereka selalu pada suatu titik berpikir tentang keyakinan yang bisa merubah segala sesuatu menjadi lebih baik.
Keyakinan yang dahsyat itu justru terlahir dari keyakinan kepada sang Khalik yang telah menciptakan manusia lengkap dengan potensi sehingga manusia hidup bisa berguna dan sukses. Juga yakin akan kemampuan diri dan potensi sebagai kekuatan atau big power untuk bisa bangkit, maju dan meraih impian. Jika Anda telah memiliki pola pikir untuk berubah, maju dan berjaya, maka milikilah keyakinan untuk memulai, melangkah dan meraih apa yang menjadi impian Anda. Yakinlah Anda bisa, maka Anda pun akan menemui kemudahan dalam langkah dengan usaha yang nyata disertai do’a.
Tekad yang kuat
Jika pikiran telah mendominasi keyakinan kita, kemudian keyakinan juga menjadi ruh dan semangat melangkah, maka bulatkan tekad. Bertekadlah, suatu pikiran, keyakinan akan kokoh dengan tekad yang bulat. Tekad menjadikan seseorang mampu bertahan dari setiap badai ujian.
Tekad untuk menjadi yang terbaik (the best) merupakan kekuatan yang bisa mengantarkan seseorang pada hal yang mungkin mustahil dilakukan. Namun, kata ‘mustahil’ (impossible) itulah yang mustahil ada bagi orang yang memiliki tekad yang kuat. Dan yang ada hanyalah suatu bukti kekuatan luar biasa dari kebulatan tekad.
Dalam tulisan M. ABi, Berani Sukses tanpa Rasa Malas, mengutip apa yang dikatkan Dr. Raghib As-Sirjani, “Maksud orang yang memiliki tekad yang kuat adalah orang yang senantiasa sangat antusias dan berobsesi merealisasikan apa saja yang telah ia niatkan (pikirkan dan menjadi keyakinan besar) dan mengerjakan sekuat tenaga.”
Tekad yang kuat siap kapan saja menjadi penggerak jiwa-jiwa untuk bisa melaju terbang ke arah tujuan.
Motivasi luar biasa
Memang motivasi bukan segalanya, tapi segala sesuatu dimulai dengan motivasi. [Reza M. Syarief, Supertrainer]
Selain memiliki pola pikir yang sukses, kayakinan yang dahsyat serta tekad yang kuat kita butuh yang namanya motivasi. Dalam melangkah, meraih impian dan menjadi yang terbaik, kita akan akrab dengan kata low spirit.
Yah, terkadang semangat kita turun-naik, terkadang pikiran kita berubah-ubah, terkadang kayakinan kita mengalami gangguan dan tekad kita menipis, lalu apa yang bisa membuat itu bisa stabil seperti semula? Kita butuh dorongan dan dorongan agar tetap stabil. Yaitu motivasi, secara umum motivasi adalah dorongan yang kuat dalam diri seseorang, baik itu dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar (eksteral).
Jika kita mengalami masalah, keruwetan yang tiada kunjung selesai. Nah, sebenarnya posisi kita pada level low battery. Seperti laptop yang lagi low battery, kita butuk men-charge lagi. Bagitu juga semangat kita yang pudar, maka kita butuh mengisi ulang (recharging) diri kita agar bisa aktif secara normal. Itulah motivasi yang menjadi pendorong dan pengisi spirit, keyakinan dan tekad melangkah.
Motivasi bisa kita dapatkan dengan cara melibatkan diri dalam suatu kegiatan, baik yang kita rancang sendiri; membaca buku motivasi, atau pun dari luar; mengikuti suatu kegiatan, organisasi dll. Yang terpenting, kita belajar dan berusaha memotivasi diri agar menjadi orang yang berpikir sukses, super, melakukan hal yang luar biasa dan menjadi yang terbaik.
Muklisin Al-Bonai. Mahasiswa Bahasa Inggris, Alumni UIN SUSKA Riau. Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Cab. Pekanbaru. muksbonai@gmail.com.
Label:
MOTIVAKSI
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
TINGGIKAN CITA-CITA
The main motto:
“Berkaya (berdakwah) dan bermanfaat bagi uMmat adalah pembuktian cita-cita tertinggiku dalam meraih ridha dan rahmat-Mu ya Allah, serta meraih surga dan berjumpa untuk melihat wajah Maha Mulia-Mu. Jika itu telah tertera di HATI, maka yang lain bukanLAH sesuatu yang memukau lagi....
WISH YOU LUCK
MR. Muklisin AL-BONAI
PBR. 14th, 2009
Label:
RUMAH MOTIVASI ALBONAI
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
Selasa, 05 Mei 2009
Berbagi Makna dan Hikmah Hidup
Kesempatan emas, miliki buku perdana
"Berani Maju Tanpa Rasa Malas." Karya: Muklisin Al-Bonai
Berikut Kata Pengantarnya:
LEMBAR PETUALANGAN LUARBIASA
PRAKATA
Berani Untuk Maju
Geliat Orang Sukses Dalam Berpikir Maju dan Berbuat Luarbiasa
Puja-puji syukur setulus hati yang paling dalam untuk yang Maha segala Maha, Maha menciptakan dan sekaligus Maha mengatur apa yang telah diciptakan-Nya. Tiada satupun yang luput dari pada penglihatan Ilmu-Nya. Tiada satupun yang tak pernah menikmati nikmat dan karunia-Nya. Semua dan sebaik-baik persembahan ini hanya untuk-Mu ya Allah Rabbil ‘Alamin.
Dengan ketulusan hati, kami kirimkan shalawat beserta salam kepada Rasul utusan-Mu yang Ummi sebagai teladan sepanjang zaman, untuk keluarga, para sahabat-sahabat beliau dan pada ummat beliau yang selalu setia sepanjang masa dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai acuan standar hidup kami umatmu dan semoga dengan kami selalu bershalawat untukmu wahai buah hati Aminah, penghulu para Rasul, semoga dengan izin Allah, safa’atmu kami semua mendapatinya.
Geliat Orang Sukses Dalam Berpikir Maju dan Berbuat Luarbiasa
Banyak orang ingin maju dan Sukses. Akan tetapi setelah mereka menjalani kehidupan full dengan tantangan dan ujian, maka tidak sedikit dari mereka yang hanya berjalan di tempat atau bahkan keluar dari rel kesuksesan.
Salah satu kerikil ujian dan tantangan hidup yang mereka jumpai adalah rasa tidak berani untuk maju dan sifat malas yang tidak terkendali. Seperti yang dikatakan David J Schwartz, ”Musuh nomor satu kesuksesan itu adalah rasa takut”. Jika seseorang masih bertahan dengan rasa takut, malu untuk melakukan hal yang positif, maka ia tidak akan sampai pada puncak kesuksesan hidup. Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, ”Apabila di dalam diri seseorang itu masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkahpun”.
Jika keberanian untuk berpikir maju dan berbuat luarbiasa itu tidak ada dalam diri seseorang, maka yang akan dominan dan menguasai dirinya adalah rasa malas. Malas merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia yang masih menjadi misteri adanya dalam diri manusia, namun sangat besar dampaknya bagi pribadi dan kemajuan serta kemunduran peradaban suatu ummat.
Memang benar, kalau kita hanya bermalasan, maka kita akan menerima rapor merah kehidupan yang suram. Ingat kata pepatah kuno yang masih antik yang mungkin hampir dilupakan yang spontan telah memberi pengaruh besar bagi semangat perjuangan, “Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh.”
Pada dasarnya rasa malas, bukan suatu sandungan dalam kehidupan, tapi lebih merupakan uji kelayakan manusia yang memproklamirkan keimanan dalam dirinya.
Dengan kata lain, bagaimana dengan mereka yang bergeliat sukses, berpikiran maju dan berbuat luarbiasa dalam mengatasi malas? Orang-orang sukses, mereka tidak menjadikan malas sebagai sekretaris pribadi, teman sepi, penghilang suntuk dan teman setia. Tetapi mereka berseberangan dengan malas, mereka tidak berteman dengan malas. Sebenarnya tidak ada orang yang malas, tapi karena tidak memiliki tujuan yang jelas itu lah yang membuat malas.
Kalau sudah malas, jangankan untuk melakukan hal besar, terkadang untuk membuka mata dan mengangkat kepala saja sangat sulit, apalagi untuk mengubah peradaban ummat kearah yang lebih baik.
Kadang kebanyakan orang berpikir adakah obat malas? Kalau ada berapapun harganya akan saya beli. Nah, seumur hidupnya tidak akan menemukan obat malas yang berbentuk tablet, kapsul atau jamu apalagi sirup untuk mengobati malas, tapi yang ada hanya obat kuat tablet, tablet menambah stamina, obat letih, lesu, obat pusing, jamu pelangsing atau sirup obat batuk dan sebagainya.
Pada hakikatnya, obat malas itu ada, dan benar-benar ada pada diri kita. Kenapa harus pergi ke apotek atau ke dukun beranak? Namun kita telah menyediakan berbagai macam ramuan untuk megobati malas ini yang tidak berbentuk tablet, cairan, bubuk atau sirup, dan yang jelas obat ini telah dikemas dengan rapi, siap dikonsumsi dan dirasakan khasiatnya bagi kehidupan kita dan semua orang. Yang terpenting butuh keberanian dan kesungguhan untuk meninggalkan kebiasaan malas. Dengan membaca buku ini berarti Anda telah mencoba berusaha untuk memiliki keberanian dalam mengatasi sifat malas.
Nah, dalam buku ini kami mengajak Anda berpetualangan untuk mengupas panjang lebar tentang problematika sifat malas, hayati dengan hati terbuka, maka sesuatu hal positif akan membuka cakrawala berpikir dan tindakan Anda untuk berani maju dan berani mengatasi malas.
Oleh karena itu, timbulah dorongan yang dahsyat dan menggebu-gebu dalam hati penulis yang menyesakkan dada untuk terjun kelapangan secara langsung, untuk mengetahui tentang penyebab kemunduran umat yang maju terdahulu, namun kini mundur dan terpuruk karena disebabkan kemalasan berbuat setelah merasa maju, malas untuk melakukan pembangunan yang positif baik segi agama, bangsa dan negara. Namun tak kalah pentingya membangun pribadi-pribadi setiap orang yang harus berjuang melawan rasa malas yang akan menghancurkan mental positif mereka.
Ingatlah! Apa yang dikatakan teladan sepanjang zaman, baginda Nabi Muhammad SAW di akhir perang badar, beliau berpesan kepada sahabatnya, sebuah pesan yang sangat terkenal,, “Kita baru saja menghadapi peperangan berat, dan peperangan yang sangat berat sesungguhnya perang melawan hawa nafsu (sifat-sifat tercela; termasuk sifat malas).” Inilah yang kita hadapi saat ini, yaitu perang dalam menaklukkan diri sendiri.
Allah Yang Maha Agung menyaksikan keinginan dan tekad yang bulat dalam dada penulis untuk menoreh tinta kebenaran, bukan bermaksud mentausyiahi atau mengajar Anda yang barang kali Ilmu dan pengalaman lebih mendalam, namun semua ini adalah untuk sebuah kebenaran yang mesti tetap tegak lurus dan untuk membangun mental pribadi yang hampir lelah dalam berjuang. “Katakanlah yang benar meski pahit”. Dan juga karena posisi kita dalam mengahadapi hidup ini memiliki problematika yang sama. Kita yakin setiap manusia mirip dalam memiliki keinginan untuk sukses, untuk menang, tapi kita juga punya kemiripan dalam hal tertentu, salah satunya memiliki ujian “malas”, maka Rasulallah SAW sendiri selalu berdo’a kepada Allah agar terhindar dari sifat lemah dan malas ini, bagaimankah kita yang jauh dari kesempurnaan? Kepada siapa kita memohon pertolongan agar terlepas dari sifat malas ini? Tentulah hanya Allah yang mampu menolong kita.
Jangan khawatir! Semua penyakit ada obatnya kecuali maut dan rambut putih(tua), nah, begitu pula sifat malas sudah barang tentu ada obatnya. Secara garis besar malas akan bisa diatasi dengan niat yang bagus, memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang jelas, semangat yang tinggi, tekad yang bulat, serta motivasi yang kuat dan selalu dipupuk dan yang paling penting adalah memohon pertolongan-Nya dengan do’a-do’a yang telah dianjurkan-Nya. Jika Anda penasaran, ikuti saja petualangan di halaman pembahasannya.
Keprihatinan yang besar untuk generasi pejuang tangguh dan ummat ini, yang semakin hari semakin meyedihkan pribadinya, salah satu yang kerap ganggu tidur penulis, namun secara spontan telah menyadarkan dan memberikan spirit berjuang keras dalam diri penulis untuk menulis, mengumpulkan materi dan terjun kelapangan untuk sebuah kebenaran yang akan dipersembahkan dalam perjuangan ini.
“Taatlah kepada Allah sesuai kemampuanmu,” begitu juga diri kita telah berusaha berjuang dalam bidang kita sesuai kemampuan kita. Hanya inilah yang dapat penulis sumbangkan untuk perjuangan ini sesuai dengan kemampuan penulis dengan disadari masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, mohon do’a dan semoga apa yang kita lakukan mendapat pertolongan Allah dan Ridha-Nya dan Anda adalah pejuang, perjuangan Anda adalah memiliki tulisan ini, membacanya dan menela’ah isinya serta menyampaikan hal yang benar kepada orang lain. Benar! Kita semua adalah pejuang dengan cara dan sesuai kemampuan kita.
Sebuah prinsip bagi penulis, ”biarlah saya berada didasar samudra asalkan kebenaran yang ingin saya sampaikan bisa diketahui oleh orang yang berada di puncak gunung tertinggi.”
Haruslah apa yang kita sampaikan kepada orang lain full manfaat, bukan sebatas materi. Namun prinsip positif dan ikhlas adalah yang terpenting dan asalkan melakukan sesuatu tanpa pamrih. “Biarlah saya tidak populer dan dikenal oleh banyak orang, asalkan saya mengenal dan dikenal oleh Allah dan populer dikalangan malaikat-malaikat-Nya serta dikalangan orang-orang shaleh.”
Semoga tulisan sederhana ini menjadi amal shaleh di sisi Allah dan semoga bisa menjadi salah satu kontribusi perjuangan untuk berpartisipasi dalam pembangunan jiwa dan kebenaran, dan ini masih butuh koreksi, masukan, kritik dan saran yang membina serta membangun sekaligus mencerdaskan. Kepada Allah saya bertaubat atas kesalahan penyampaian dan bersyukur telah diberi kesempatan yang tak terhingga ini, kepada Anda semua saya mohon maaf atas kekhilafan dan kekurangan dalam hal ini dan berterimakasih atas kelapangan hati untuk menela’ah tulisan ini dan menyampaikannya kepada saudara-saudara kita yang lain. Dan, saudaraku jangan lupakan saya dalam do’amu. Semoga umat ini semakin berjaya dan berdiri lagi untuk maju. Semoga Allah mengumpulkan kita di jannah-Nya.
Pekanbaru, Desember 2008
Muklisin Al-Bonai Bin Amsar Jas
Berminat? Hub: 0852 656 333 14. Harga Rp. 23000 (takasimura)
Label:
MOTIVAKSI
Forum/Lembaga Penyedia Inspirasi, Motivasi, Berbagi Solusi dan Pemberiaan Apresiasi Atas Karya dan Prestasi.
Langganan:
Postingan (Atom)